Layar putih memandangi si penulis. Menunggu untuk menampilkan huruf dan kata yang diminta. Jari-jari penulis berdiri di atas tombol-tombol huruf sedari tadi. Layar putih ingin menjadi sesuatu. Sebuah cerita. Sebuah puisi. Sebuah paragraf. Sebuah kalimat yang terpotong pun tak apa. Ia hanya ingin menjadi lebih dari sebuah layar kosong. Ia lelah dan bosan belakangan harus hadir tanpa memiliki kandungan.

Layar putih tahu bahwa si penulis memiliki ide untuk dituliskan. Mungkin terlalu banyak ide sehingga ia ragu. Menginginkan apa yang dituangnya akan menjadi sebuah karya terbaik. Memasaknya terlalu lama di dalam otak si penulis hingga ide-ide yang ada malah menjadi gosong. Ingin dia memberi tahu si penulis bahwa otaknya hanya perlu bekerja menjadi produsen ide dan layar putih akan membantunya berpikir.

Layar putih tidak bisa berpikir tapi ia handal dalam membariskan kata demi kata agar bisa dilihat secara fisik. Selain itu, dia ahli dalam menghapus jejak. Berbeda dari kertas dan pulpen yang akan meninggalkan coretan, pembaca tidak akan tahu kata apa yang dihapus atau diganti pada layar putih.

Si penulis akhirnya memandangi layar putih. Lama ia memandangi langit-langit di atas kepalanya. Diketiknya tiga buah kata. Pada suatu hari,…

Foto oleh cottonbro dari Pexels