Catatan: artikel ini ditulis oleh seorang anak laki-laki dengan hanya berbekal keingintahuan dan tanpa disertai latar belakang ilmu pengetahuan linguistik. Mohon dibaca dengan hati-hati.


Belakangan ini aku memikirkan metafora semangat yang sering dikaitkan dengan api. Semangat berapi-api merupakan kata yang sangat awam bagiku. Sebelumnya aku tidak pernah bertanya mengapa semangat itu… berapi-api. Apa kesamaan semangat dengan api? Mengapa aku tidak pernah mendengar semangat berangin-angin. Ketika mendengar semangat berangin-angin, yang terpikirkan malah semangat yang naik turun tidak menentu seperti angin. Pasti ada alasan mengapa semangat dikaitkan dengan api.

Apa saja kesamaan semangat dan api?

Setidaknya ada tiga hal yang terpikirkan olehku mengapa semangat sesuai dengan konsep api.

  1. Keduanya adalah keadaan. Api bukanlah suatu bentuk materi yang bisa mempertahankan bentuknya secara alami, seperti zat padat, cair ataupun gas. Api membutuhkan panas, bahan bakar dan oksigen di udara untuk tetap menjadi api. Semangat juga tidak selamanya konstan. Dia bisa bertambah besar, tidak berubah ataupun padam. Bahkan aku menggunakan kata padam untuk mendeskripsikan semangat yang hilang.
  2. Keduanya berasosiasi dengan hidup. Suhu orang hidup lebih tinggi ketimbang yang sudah meninggal dan ini menjadi salah satu alasan api dikaitkan dengan kehidupan. Api kehidupan. Dan juga orang-orang yang bersemangat seringkali merasa lebih ‘hidup’. Karena keduanya dekat dengan makna hidup, ini mungkin menjadi salah satu alasan mengapa kedua konsep ini sejalan.
  3. Semangat dan api bisa menyebar ke lingkungan sekitar. Seperti api yang membakar satu pohon kemudian membakar hutan, berinteraksi dengan orang-orang yang bersemangat juga terkadang mendorong kita untuk ikut bersemangat pula.

Kondisi psikologis ketika sangat tidak termotivasi saja dinamakan burn out (di dalam Bahasa Inggris), yang bisa diartikan sebagai (bahan bakar) habis terbakar. Aku yakin sebenarnya masih ada alasan-alasan lainnya yang mungkin lebih akurat dari yang sudah dijelaskan tapi setidaknya aku ingin memberi contoh bagaimana bahasa membentuk pemahaman dan pemahaman membentuk bahasa.

Di bagian berikut, aku ingin memberikan contoh bagaimana kita bisa menjelaskan konsep motivasi yang tidak dapat kita lihat menggunakan api yang dapat kita lihat melalui analogi.

Motivasi dan api.

Motivasi merupakan sinonim dari kata semangat. Maka dari itu, motivasi bisa kita ibaratkan dengan api juga. Ada beberapa dari kita yang merasa bahwa kita tidak termotivasi untuk mengerjakan sesuatu. Tidak ada motivasi, katanya. Atau, mengumpulkan motivasi dulu. Di sisi lain, bagi kita yang mempelajari mengenai produktivitas, disiplin adalah kunci katanya. Motivasi itu bohong. Melalui metafora api, aku bisa mengatakan bahwa motivasi itu dibutuhkan namun tidak harus dikumpulkan.

Api tidak harus membara atau berukuran besar agar bisa membakar sesuatu. Percikan saja bisa meledakkan tabung gas dan arus pendek bisa pada akhirnya membakar rumah.

Ranting

Lantas apa yang dibakar oleh ‘api’? Menurutku, aktivitas yang ingin dilakukan bisa dianalogikan sebagai bahan yang ingin dibakar. Kayu kering tentunya lebih mudah dibakar ketimbang kayu basah. Begitu juga dengan aktivitas yang dilakukan. Ada aktivitas yang lebih mudah dilakukan ketimbang aktivitas lainnya. Mungkin menonton itu bisa dibilang barangnya sudah disiapkan kering dan siap dibakar sementara mengerjakan tugas dan belajar untuk ujian itu adalah kayu dan ranting yang kita kumpulkan sendiri. Bisa basah, bisa kering.

Panas api

Berdasarkan reward motivational theories, analogi yang digunakan juga menjelaskan reward dari proses aktivitas yang dilakukan. Api yang berhasil membakar kayu akan menghasilkan panas yang kemudian memudahkan api untuk mempertahankan kondisinya dan juga mempermudah untuk menyebar apabila ada bahan yang bisa dibakar di sekitarnya.

Manusia cenderung mengulangi kegiatan yang memberi reward. Reward ini bisa berbentuk nyata seperti hadiah dan uang ataupun internal seperti perasaan puas atau senang. Ini mengapa bermain ‘5 menit saja’ terkadang bisa berakhir setelah 1 jam. Ketika kita menikmati sebuah kegiatan, kita akan termotivasi tanpa sadar untuk mencari kenikmatan itu lagi.

Kalau mempertahankan motivasi/ semangat serupa dengan mempertahankan api seperti yang dijelaskan sebelumnya, aktivitas yang kita lakukan juga haruslah ‘mudah terbakar’.

Kalau mempertahankan motivasi/ semangat serupa dengan mempertahankan api seperti yang dijelaskan sebelumnya, aktivitas yang kita lakukan juga haruslah ‘mudah terbakar’. Aktivitas dibuat sederhana seperti kayu yang dipotong terlebih dahulu dan juga dibuat agar memberikan feedback positif. Reward ini bisa eksplisit seperti makanan dan waktu bermain, atau feedback ini bisa juga berbentuk seperti mencentang checklist. Kegiatan sesederhana mencentang bisa memberikan perasaan senang karena menandakan adanya progres.

Ini mengapa disiplin saja terkadang tidak dapat bekerja dengan efektif. Ketika bahan bakar harus terus menerus disuplai tanpa adanya panas yang dihasilkan tentunya akan menghabiskan sumber daya dalam waktu yang sangat singkat. Di sisi lain, membuka media sosial menjadi bahaya karena aktivitas tersebut cenderung adiktif dan dengan kata lain, mudah terbakar.

Akhir kata

Kuharap contoh yang diberikan berhasil menunjukkan bagaimana metafora bisa membantu kita memahami hal-hal yang tidak dapat kita lihat atau sentuh melalui hal-hal yang kita pahami.

Ini juga menunjukkan bagaimana metafora mempengaruhi pola pikir di kehidupan sehari-hari. Karena metafora memiliki batas dalam menyampaikan konsep, akan ada hal-hal yang terpendam untuk menyederhanakan konsep. Seperti konsep api yang dijelaskan, aktivitas itu tidak sama dengan ranting dan maka itu aktivitas bukan dikumpulkan di tanah. Setidaknya, pemahaman kalian kuharap lebih baik dari pemahaman bahwa motivasi itu harus dikumpulkan seakan-akan dragon ball yang harus dikumpulkan yang nantinya akan menunda aktivitas yang bisa dimulai dua detik lebih awal.

Foto oleh Dominic Sansotta melalui Unsplash