Lompat ke konten

Memikirkan Kemacetan Lalu Lintas

Sampai hari ini aku merasa kalau aku ke Jakarta dan belum mendengar klakson bersahutan di tengah kemacetan, itu namanya belum ke Jakarta. Begitu juga dengan Medan, aku merasa belum ke Medan kalau belum mendengar orkestra klakson dan sumpah serapah.


Sebelum membaca jauh lebih lanjut, aku ingin mengingatkan dulu kalau tulisan ini bukan tulisan ilmiah. Alih-alih memberikan jawaban atau penjelasan, kamu mungkin malah memiliki lebih banyak pertanyaan dan bingung setelah membacanya. Aku menulis ini bermodal dengkul, kentut, dan waktu kosong untuk berbicara dengan diri sendiri. Tidak ada riset atau pemeriksaan fakta ketika menulisnya.

Tulisan ini bisa dibaca dengan intonasi anak kecil berbicara pada abad 20, atau temanmu yang seperti teler tapi tidak pernah konsumsi obat-obatan seumur hidupnya, atau juga seperti tulisan yang tidak memiliki suara. Untuk apa aku menulis kalimat barusan? Lucu aja.


Macet itu menarik bagiku karena itu salah satu pengalaman universal dan juga eksklusif untuk manusia yang hidup di daerah perkotaan modern. 50 tahun yang lalu ketika kendaraan bermotor belum seramai sekarang, mungkin konsep macet yang mereka tahu berbeda dengan yang kita pikir sekarang. Mungkin macet dulu itu macet air atau mesin, sementara sekarang macet itu hampir eksklusif merujuk pada kemacetan lalu lintas.

Ketika aku mendengar kata macet atau kemacetan, aku membayangkan mobil-mobil dan motor-motor berbaris bertumpuk di jalan raya. Kondisi mesin menyala. Untuk kondisi mesin mati, dinamakan parkir sembarangan. Apabila manusianya saja, aku mungkin akan menyebutnya sebagai antrian atau keramaian. Ini membuatku bertanya, apa yang membedakan macet dan mengantri?

Apakah ketika berada di dalam mobil atau di atas motor, kita merasa seperti benda yang tersangkut? Macet, mampet, dan sangkut memiliki makna serupa. Hal yang seharusnya mengalir tapi berhenti atau menjadi sangat lambat. Apakah kita merasa atau mengalami kemacetan ketika kendaraan melambat di bawah standar ekspektasi kita? Ada ekspektasi bahwa kendaraan itu bergerak lancar seperti air dalam selang. Mungkin. Aku yakin ada dari kita yang sudah terbiasa dengan berhenti di tempat selama 5 menit beberapa kali sehingga perjalanan 1 jam untuk menempuh 5-10 km menjadi sesuatu yang normal dan bukanlah kemacetan. Bagi orang-orang itu, itu namanya lambat, kalau macet itu berhenti di tempat berkali-kali.

Aku merasa macet itu selalu berkonotasi negatif. ‘Terjebak kemacetan’ terdengar seperti ‘terjebak banjir’, yang membuat macet itu seperti bencana yang menimpa. Kita tidak menyebut kondisi lapar sebagai kondisi yang menjebak, tidak pernah kudengar ‘terjebak lapar’. Macet juga terdengar seperti penyakit. “Kena macet engga?” rasanya tidak jauh berbeda dengan “Kena flu engga?”

Macet adalah salah satu atau, mungkin, satu-satunya pengalaman kolektif yang tidak memantik solidaritas. Mungkin ini adalah pernyataan yang lebih akurat untuk mobil dan bukan untuk motor karena aku merasa mobil menciptakan bubble secara nyata. Kita mengomentari orang lain dari balik kaca, bukan layar smartphone dan terpaku pada pemikiran diri sendiri (atau orang lain yang berada di mobil). Kalau di atas motor, mungkin kita lebih menahan diri untuk berkomentar.

Entah berapa banyak ratus atau ribu celetukan yang kudengar di tengah kemacetan yang berakhir memotivasi tulisan ini. CFD hanya membuat kemacetan. Supir di depan sangatlah lambat. Lampu merah yang terlalu singkat. Terlalu banyak motor. Ada pejabat lewat (yang satu ini memang butuh dikurang-kurangi). Busnya cuman makan jalan. Parkir sembarangan (di badan jalan). Perbaikan jalan. Galian jalan. Antri jemputan sekolah. Demo. (Silahkan tambah sendiri unek-unek dalam benak kalian.) Banyak keluhannya yang akurat dalam mengidentifikasi situasi namun sembrono dalam memberikan solusinya.

Bus yang makan jalan itu mengurangi mobil dan motor sebanyak penumpang di dalamnya. CFD memberikan ruang lebih luas untuk berjalan kaki dan beraktivitas di ruang terbuka, sebuah fitur yang kita miliki lebih dari sepuluh ribu tahun. Supir ugal-ugalan. Berharap apa kalau SIM itu gagal menjadi tolak ukur yang baik dalam kemampuan dan etika berkendara.

Macet itu konsep yang tidak memiliki batas yang jelas. Bentuknya banyak. Terlalu banyak mobil dan motor di satu waktu. Terjadi penyempitan jalan. Hambatan akibat banyak kendaraan keluar atau masuk dari persimpangan. Satu yang konstan. Kendaraan pribadi yang jumlahnya berlebihan.

Menurutku, alasan orang tidak suka berjalan kaki atau tidak suka naik transportasi publik adalah alasan yang malas. Aku dilahirkan dengan kaki yang sehat. Langkah pertama adalah salah satu hal yang dirayakan paling awal sejak kita lahir. Langkah pertama adalah frasa yang normal kita gunakan ketika kita mencoba hal baru. Bukan berjalannya yang tidak disukai tapi ketiadaan fasilitasnya. Bukan transportasi publiknya yang dibenci tapi ketiadaan niatnya untuk membuatnya nyaman dan konsisten.

Mungkin memiliki kendaraan pribadi baik mobil atau motor memberikan keleluasaan dan aku setuju atas sentimen itu. Di sisi lain, aku ingin memiliki opsi dan alternatif. Aku ingin punya pilihan apabila aku malas berkendara. Aku ingin punya jaring pengaman apabila aku tidak bisa berkendara. Aku ingin punya udara yang bersih dan langit yang baru di manapun aku melihat ke atas. Aku ingin punya pemerintah yang bisa aku sebut pemerintah.