Mental model adalah konsep proses berpikir seseorang mengenai bagaimana sesuatu bekerja dalam dunia nyata.

Sterman pada tahun 1994 menyatakan bahwa istilah mental model menekankan pada pemetaan dari hubungan sebab akibat dalam sistem yang kita ketahui, kepercayaan kita mengenai hubungan sebab dan akibat yang menjelaskan bagaimana sebuah sistem beroperasi.

Representasi mental = sebab -> akibat

Representasi model biasanya terdiri dari faktor-faktor yang saling mempengaruhi satu sama lain. Faktor A dapat meningkatkan faktor B atau menurunkan faktor B.

Untuk ilustrasi, penulis akan menggunakan persepsinya untuk dijelaskan lebih lanjut. Penulis menganggap kualitas pendidikan formal akan menentukan kualitas sumber daya manusia dan selanjutnya akan kembali menentukan kualitas pendidikan formal. Hal ini turut menyebabkan permasalahan edukasi menjadi sulit diperbaiki dalam waktu singkat.

Ilustrasi bagaimana kualitas edukasi tetap stagnan

Ilustrasi dapat dibaca seperti berikut: “Kualitas guru yang berkecimpung di dunia pendidikan akan mempengaruhi tingkat intelegensi murid yang dihasilkan. Beberapa murid yang telah lulus SMA akan melanjutkan pendidikannya menjadi sarjana di bidang pendidikan dan ada yang menjadi guru setelah lulus dari perkuliahannya. Siklus ini akan dimulai kembali.”

Mental model atau yang terkadang disebut sebagai representasi mental memang tidak sempurna seperti yang diilustrasikan di atas. Penulis mengabaikan keluarga, lingkungan dan siswa itu sendiri yang juga turut mempengaruhi kepintaran siswa.

Dari Mental model yang telah dibuat, dapat dilihat juga bahwa periode waktu yang dianggap relevan berada pada skala tahunan hingga dekade.

Representasi mental akan bervariasi dari orang ke orang mulai dari hubungan sebab akibatnya, rentang waktu sistem yang dipahami hingga perspektif yang diambil. Seseorang dapat mengatakan bahwa pendidikan ditentukan secara dominan oleh orang tua anak. Ada yang berpendapat bahwa pendidikan itu adalah tempat belajar anak sehingga anak itu sendiri yang akan menentukannya. Menariknya adalah dalam representasi mental, beberapa argumen itu bisa jadi valid atau sah untuk disampaikan.

Skala menjadi kelemahan utama dalam konsep pemahaman ini. Coba bayangkan satu orang. Mudah? Sekarang bayangkan 10 individu. Masih mudah? Bagaimana dengan 1000 insan? Bisakah kamu membayangkan pendidikan apa saja yang ditempuh oleh mereka? Hal ini akan semakin sulit dibayangkan ketika kuantitas yang digunakan meningkat.

Selain itu, mental model juga bisa dengan mudah mengabaikan apa yang penting. Hal ini dapat terjadi karena kurangnya pemahaman seperti anggapan mencintai lingkungan sama dengan tidak ada sampah di sekitar tempat tinggal. Hal lainnya adalah kompleksitas masalah yang diteliti. Hal ini kerap terjadi apabila model mulai melibatkan banyak hubungan sebab akibat seperti produksi meningkat melalui permintaan, permintaan meningkat melalui pemasaran, pemasaran membutuhkan modal dan begitu juga produksi, kemudian jumlah permintaan juga dipengaruhi oleh harga produk.

Mental model dapat digunakan untuk meningkatkan pemahaman.

Kendati tidak ada model yang sepenuhnya benar, Mental model memungkinkan manusia melakukan banyak hal. Konsep ini sering digunakan untuk menjelaskan sistem apabila sistem memiliki banyak umpan balik (feedback), penundaan (delay) dan akumulasi (akumulasi). Contoh yang paling umum adalah fenomena epidemi di mana orang-orang sakit akan menyebarkan penyakitnya dan menjangkiti orang-orang lain beberapa waktu kemudian sehingga wabah tidak terdeteksi sebelumnya.

Trivia : Istilah Mental model pertama kali digunakan dalam dunia psikologi sekitar tahun 1943 dan kemudian mulai digunakan juga di bidang system dynamic atau system thinking pada tahun 1998.