Tek tek tek. Gerobak dorong coklat sederhana itu berhenti di depan rumahku. Entah karena liburan atau karena menonton piala dunia, kami menjadi pelanggan setia nasi goreng pak Ahmad. Larut malam beliau lewat biasanya, cocok dengan jadwal pertandingan bola yang ada. Aku, adikku dan ayah menjadi rajin terjaga hingga jam 12 untuk menonton. Kebetulan aku dan adikku juga sedang memasuki masa liburan sekolah sehingga kami diperbolehkan untuk tidur lebih malam daripada biasanya.

Mungkin Pak Ahmad juga sekalian mendorong gerobaknya pulang ke rumah makanya ia baru lewat di depan rumahku di malam hari. Selain alasan pukul 10 malam yang menurutku sudah tidak banyak pembeli biasanya, sayur atau permintaan tambahan telur kami pernah tidak dituruti. Stoknya habis katanya. Besok-besoknya, telur ayam kampung yang di kulkas kuberikan kepada Pak Ahmad untuk digoreng. Soal harga, satu porsinya tetap di lima ribu rupiah. Tidak berubah. Pak Ahmad mungkin heran dengan kami. Saat memesan, kami juga memberikan piring kami sebagai tempat. Kali ini, ibu yang mengingatkan kami untuk mengurangi sampah yang tidak diperlukan. Tidak perlu dibungkus. Hanya di depan rumah. Begitu idenya.

Saat kami tidak membeli, kami terkadang masih akan duduk di halaman rumah dan bertukar cerita. Lebih tepatnya ayah dan Pak Ahmad, aku dan adikku terkadang ikut duduk dan mendengar saja pembicaraan mereka. Yang kuingat hanyalah naik turunnya harga pangan di pasar. Terkadang Pak Ahmad menceritakan legenda-legenda di Indonesia kepada kami. Tentang kedua raksasa saling melempar tanah dan membentuk Bukit Barisan. Sangkuriang yang menendang perahu hingga terbalik di atas bukit. Dan masih banyak lagi. Kata ayah, Pak Ahmad dulu pernah mengajar Bahasa Indonesia dan dipecat karena dilapor salah seorang muridnya. Dia mendapat nilai buruk dan menyalahkan Pak Ahmad. Aku atau adikku tidak mungkin bisa begitu. Yang ada kami diganjar dengan hukuman.

Pembelian rutin kami bertahan kurang lebih 6 minggu. Aku tidak tahu apakah Pak Ahmad masih berhenti di depan rumah kami pada malam-malam berikutnya. Yang aku tahu ialah kebiasaan ini berlanjut lagi ketika Piala Eropa dua tahun berikutnya. Ketika datang piala dunia berikutnya, kabar Pak Ahmad menjadi hal pertama yang kutanya kepada ayah.

Sayang, ayah tidak punya jawaban untuk pertanyaanku. Sudah setahun ayah tidak melihat Pak Ahmad lewat. Mungkin Pak Ahmad mendapat pekerjaan yang lebih baik. Kuharap begitu alasannya.

Foto melalui Kompas