Cerita ini adalah refleksi dari kunjungan pertamaku ke kab. Ende selama kurang lebih 3 minggu di November 2021. Di waktu ini juga, aku berkesempatan untuk berinteraksi secara langsung dengan kehidupan setempat. Tujuan utamaku ke Ende ialah membantu penelitian terkait perilaku hidup bersih dan sehat. Kami ingin tahu bagaimana perilaku hidup bersih dan sehat mempengaruhi kemungkinan anak terkena stunting. Refleksi ini bisa dibilang cerita di balik layar penelitiannya.

Sebagai peneliti, aku bersyukur mendapat kesempatan untuk memandu group model building dan memiliki tim survei yang istimewa.

Group model building adalah salah satu kegiatan dari beberapa metode pengumpulan data yang kami laksanakan. Ada tiga metode pengumpulan data yang dilaksanakan: (1) survei kuantitatif menggunakan kerangka kerja RANAS, (2) wawancara kualitatif dengan tokoh adat dan pemerintah setempat, dan (3) focus group discussion (FGD) dengan pemerintah kabupaten Ende.

Group model building merupakan bagian dari FGD dan seperti namanya, group model building bertujuan untuk membuat model bersama-sama. Istimewanya group model building adalah kami membuat model berdasarkan pemahaman peserta. Kami menuangkan persepsi yang selama ini hanya ada di pikiran ke dalam bentuk tertulis atau model. Ini dilakukan dengan bahasa mereka alih-alih bahasa teknis yang mungkin sulit dipahami. Dengan begitu, pembelajaran pun akan terasa lebih dekat karena pengetahuan itu datang dari mereka sendiri.

Sementara aku dan peneliti utama melakukan wawancara kualitatif dan juga FGD dengan pemkab Ende, tim survei kami mengunjungi ratusan rumah di tiga desa di Ende. Mereka menanyakan lebih dari 100 pertanyaan kepada setiap orang. Melalui mereka dan penduduk desa, aku mempelajari adat istiadat di Ende.

Aku merasa tim survei yang membantu kami cukuplah istimewa. Berkaca pada pengalamanku dulu sebagai enumerator, tim enumerator sekarang memiliki kapasitas yang cukup baik. Aku yang di masa lalu pasti akan segan bertemu mereka. Mereka cukup fleksibel, tahan banting, dan paham daerah setempat. Tidak hanya kapasitas mereka, aku juga kagum dengan pengalaman lalu-lalu dan mimpi mereka. Oh iya, aku bisa melihat bagaimana pernikahan di Ende dilaksanakan juga karena enumerator.

Sepanjang penelitian ini, aku juga merasa sangat terbantu oleh WVI Ende. Mulai dari mengumpulkan enumerator-enumerator yang kompeten dan berpengalaman, menghubungi pemerintah kabupaten, dan juga menghubungi pemerintah desa, WVI memiliki andil besar dalam membantu kami. Pun, banyak yang bisa kupelajari dari WVI, seperti integritasnya, profesionalitasnya, dan juga keramahannya.

Sebagai turis, Ende adalah tempat yang cocok untuk berlibur.

Dari sekian banyak tempat yang kukunjungi di Ende, danau Kelimutu memang merupakan tempat yang paling indah. Tempat ini cukup tinggi dan kita bisa langsung melihat laut. Kalau kurang beruntung, jarak pandang akan berkurang oleh karena kabut. Danau Kelimutu adalah tempat sakral. Danau ini dipercaya sebagai tempat peristirahatan terakhir suku Lio. Ini membuat danau Kelimutu lebih terjaga ketimbang daerah wisata yang pernah kukunjungi.

Danau Tiga Warna atau Danau Kelimutu bukanlah satu-satunya tempat yang layak untuk dikunjungi. Aku merasa desa-desa di Ende juga menarik. Kalaulah sebelumnya aku pernah masuk desa dengan mayoritas Muslim, desa dengan mayoritas Buddhis, kini aku memasuki desa dengan mayoritas Katolik. Sekilas, desa-desa yang pernah kukunjungi tidak jauh berbeda. Ditilik lebih lanjut, ada ornamen atau kebiasaan tertentu yang membedakan satu dengan yang lainnya.

Tapi, apabila kamu menanyakan apa yang menjadi favoritku, aku tidak akan menjawab keduanya. Jujur, aku akan menjadikan jalan nasionalnya sebagai favoritku. Aku menikmati perjalanan yang penuh lika-liku naik turun sebelum mencapai destinasi. Aku menyukai perjalanan yang diisi oleh bentang alam sebelum mencapai tujuan. Aku menghargai perjalanan sebanyak aku mengagumi tempatnya… atau bahkan lebih.

Sebagai manusia, aku merasa sangat diterima ketika menghabiskan waktu di tempat ini.

Lebih dari menjadi seorang turis, aku merasakan kehidupan setempat. Aku pernah menginap satu malam di desa. Mandi di tempat terbuka. Aku juga pernah kesulitan air. Sulit mandi. Aku juga datang ke pernikahan (dan juga joget). Aneh rasanya mengetahui kalau yang berada di sebelah kiri kanan pasangan pengantin adalah saksi pernikahan dan bukan orang tua pasangan. Aku juga mempelajari sedikit bahasa daerahnya. Aku bisa bertanya nama dan tempat tinggal. Menembus kali dan juga terhambat perjalanannya karena kali yang meluap juga sudah… kalau itu dihitung sebagai kehidupan setempat.

Anehnya, tempat ini baru bagiku tetapi juga familiar di saat yang sama. Pergi ke tempat yang belum pernah disambangi tapi tidak membuatku begitu canggung. Tempat ini berbeda dari yang selama ini pernah kukunjungi tapi tidak asing.

Aku tidak tahu apakah perasaan unik ini disebabkan tim enumerator yang terbuka, atau adanya penduduk suku Cina yang tinggal di Ende, atau hidup tanpa kompetisi yang tidak sehat, atau budaya penduduk yang masih sangat ramah, atau kemiripannya dengan penduduk di Pulau Sumatera. Yang pasti, aku bersyukur atas kesempatanku ke Ende termasuk bertemu dengan mereka-mereka yang berhati besar.

Bonus: foto sebelum dan sesudah kali meluap.