30 Agustus 2021, aku mendapatkan gelar Master of Science (M.Sc) di jurusan Engineering and Policy Analysis, TU Delft. Genap 2 tahun sudah kuhabiskan berkuliah di Belanda, mulai di September 2019 dan usai di Agustus 2021. Ini adalah ulasan pengalamanku berkuliah S2 EPA di TU Delft.

Apa yang kupelajari di dalam kuliah

Engineering and Policy Analysis (EPA) merupakan salah satu jurusan yang bernaung di bawah fakultas Technology, Policy, and Management. Normatifnya, Engineering and Policy Analysis berfokus pada analisis dan pemecahan masalah kompleks yang melibatkan banyak pihak dengan kepentingan yang saling bertentangan. EPA mewakili aspek teknologi dan kebijakan dalam fakultas (TPM sesuai dengan namanya mencerminkan 3 aspek: (1) teknologi, (2) kebijakan, dan (3) manajemen). EPA menurutku beririsan dengan science-based policy (kebijakan berbasis sains) yang sekarang semakin sering digaungkan.

Aku pernah menganalogikan EPA sebagai…

sebuah restoran politik yang menyediakan menu makanan pendekatan ilmiah.

Aku belajar banyak metode atau pendekatan ilmiah untuk menganalisis kebijakan. Utamanya, aku belajar bagaimana mengembangkan model dan menggunakannya sebagai sarana untuk membantu proses perumusan kebijakan.

Dalam perkuliahan, kami sangat disarankan untuk tidak menggunakan model untuk memprediksi. “all model is wrong, but some are useful.” adalah pepatah yang paling terkenal dalam jurusan kami. Model kami gunakan untuk mencari tahu hal apa saja yang mungkin terjadi dalam berbagai skenario. Kami juga menggunakannya untuk menguji asumsi yang ada dalam pengambilan kebijakan. Optimasi bukan kekuatan utama kami. Kekuatan kami lebih terletak pada eksplorasi, kami mencari tahu apa saja yang mungkin terjadi dan menghubungkannya dengan nilai-nilai sosial yang dihargai masyarakat.

Mata kuliah

Di tahun pertama, kami mendapat 12 mata kuliah wajib, dengan masing-masing 5 ECTS. ECTS adalah sistem kredit yang diterapkan di Eropa, 1 ECTS setara dengan 28 jam belajar. 12 mata kuliah ini terbagi ke dalam 4 kuarter. Di antaranya, aku belajar permodelan sistem menggunakan beberapa paradigma seperti discrete event modeling dan system dynamic. Aku mengambil mata kuliah yang menjelaskan agent-based modeling di tahun berikutnya. Tiga paradigma ini adalah yang paling umum ketika membahas permodelan atau simulasi sistem.

Selain membahas kebijakan dari sudut pandang sistem, kami juga diajarkan untuk mengkajinya berdasarkan keterlibatan berbagai macam pemangku kepentingan. Aku belajar menganalisis kebijakan yang melibatkan berbagai kepentingan yang bertentangan, dan model yang berfokus pada pemangku kepentingan dan pilihan tindakannya ketimbang sistem. Contohnya adalah comparative cognitive mapping, game theory, dan social network analysis. Secara pilihan untuk melakukan analisis kebijakan, sekarang aku merasa seperti tukang kayu yang memiliki banyak alat di sabuknya.

Memasuki tahun kedua, perkuliahan kami mulai terfokuskan. Semester satunya ditujukan untuk spesialisasi sementara semester keduanya adalah periode tesis. Di sini, perkuliahan kami sudah berbeda-beda sesuai minat masing-masing mahasiswa/i.

Aku mengambil paket spesialisasi serious gaming, yang berisi mata kuliah serious games design, simulation masterclass, dan participatory system. Sudah tidak ada lagi mata kuliah yang diampu jurusan EPA, matkul-matkul ini diampu oleh jurusan lainnya. Aku belajar bagaimana menggunakan media gim sebagai medium pengajaran dan aku berhasil membuat dua serious games. Gim pertama adalah tentang plastik di sungai dan di laut, dan gim kedua bertujuan untuk melatih kemampuan perspektif pemain. Beberapa hal yang kupelajari di semester ini juga menambah persenjataan analisisku.

Di semester kedua, aku sudah memulai mengerjakan tesis, lawan terakhir untuk mendapatkan gelar S2 EPA. Tesis di EPA berlangsung selama satu semester dan senilai 30 ECTS. Topikku dan teman-teman sudah sangat variatif di sini. Aku menulis tentang tata kelola sanitasi yang berjudul Recognizing Sanitation Swamp in Indonesia.

Sepanjang berkuliah, kami sering dihadapkan dengan studi kasus yang nyata. Kasus-kasusnya mengajakku untuk mengkaji perbedaan sudut pandang dan kepentingan, mempertimbangkan batasan etika dan budaya, dan juga berusaha menyadari dan berempati kepada mereka yang memiliki pemahaman berbeda dari aku sendiri. Studi kasusnya bervariasi, mulai dari krisis iklim global, membuat model logistik bantuan kemanusiaan di Bangladesh hingga mengembangkan model epidemi HIV-AIDS di Indonesia. Aku langsung tahu bagaimana teori yang kupelajari sebaiknya diterapkan.

Atmosfer dan teknis kuliah

Aku menyukai teman-teman jurusanku. Atmosfer berkuliah di EPA terasa lebih internasional apabila dibandingkan dengan mata kuliah di jurusan lain. Komposisi gender terasa lebih berimbang. Ditambah tahun pertama yang banyak dihabiskan bersama di gedung yang terpisah dari TU Delft, kami menjadi sering bertukar cerita dan budaya.

Tahun pertama perkuliahan kebanyakan dilakukan di Wijnhaven, Den Haag. Kami berbagi dengan Leiden University. Program studi EPA menempati sebagian besar lantai lima. Kebetulan, kami tidak menghabiskan satu tahun penuh karena pandemi yang melanda di pertengahan kuliah di kuarter ketiga.

Secara teknis, berkuliah ketika lockdown tidak menjadi lebih sulit. Internet cenderung stabil, air dan listrik tidak pernah padam, dan kepadatan penduduk Delft cukup rendah. Tantangan yang dialami murni datang dari tantangan non-teknis, seperti atmosfer belajar yang mendadak berubah, komunikasi yang selalu berbataskan layar, dan bercampurnya ruang pribadi, ruang kerja, dan ruang istirahat.

Berkas-berkas perkuliahan seperti slide kuliah dan bacaan per mata kuliah disediakan di situs terpusat kampus. Meski terkadang kurang user friendly, situs ini menjalani fungsinya dengan cukup baik. Adakalanya, beberapa paper diberikan sebelum pertemuan untuk dibaca. Lama kelamaan, ini melatih kecepatan menangkap intisari paper yang diberikan. Ada juga yang memberikan pertanyaan untuk membantu mahasiswa/i untuk fokus dengan apa yang penting dibahas. Jujur, aku lebih banyak membaca jurnal ketika S2 ketimbang S1.

Untuk penilaian, tugas secara umum mendominasi penilaian akhir. Kurasa lebih dari dua per tiga mata kuliah yang kuambil memiliki tugas besar. Beberapa mata kuliah memiliki tugas-tugas mingguan atau per dua minggu. Kurang dari setengah memiliki ujian terjadwal. Ada beberapa ujian yang berupa esai dengan waktu pengerjaan satu minggu atau lebih. Melihat waktu yang dihabiskan, aku merasa lebih adil dengan format penilaian yang lebih menekankan pada tugas.

EPA Grand Challenge

EPA grand challenge adalah acara yang diadakan oleh pihak program studi setiap tahunnya. Kami, mahasiswa yang sedang atau sudah selesai mengerjakan tesis, diberikan kesempatan untuk mempresentasikan proses atau hasil penelitiannya. Formatnya menyerupai konferensi jurnal. Acara ini menjadi momen berkumpul dan berbagi hasil penelitian.

Ini terutama penting buatku karena penelitianku dilakukan secara independen. Acara ini memberikanku kesempatan untuk bercerita dan setidaknya dia lebih dari file elektronik yang teronggok di repositori kampus. Melalui acara ini, aku juga menyadari bahwa pekerjaanku sudah cukup jauh dan aku cukup menguasai apa yang kukerjakan.

Serunya juga, malam dari acara ini ditutup dengan pesta. Oh, pesta di sini juga dihadiri oleh dosen. Mereka juga bermain voli dan minum bersama dengan mahasiswa-mahasiswinya.

Apa yang kupelajari di luar kuliah

Belanda adalah negara pertama dengan empat musim yang kukunjungi. Belanda juga menjadi negara pertama yang kukunjungi di luar Asia Tenggara. Di sini, aku belajar bagaimana cuaca benar-benar mempengaruhi pola kerja dan aktivitas. Untuk pertama kalinya aku merasakan perubahan perasaan yang dikarenakan kurangnya terpapar sinar matahari. Tidak pernah terpikirkan olehku seberapa nyamannya memiliki matahari yang rutin terbit dan terbenam dengan interval 12 jam.

Warteg atau rumah makan nasi Padang tidak mudah ditemukan, tidak seperti di Indonesia. Ini mendorongku untuk lebih serius mempelajari kemampuan memasak. Makanan-makanan instan yang tersedia membutuhkan pengeluaran yang lebih.

Berkomunikasi pun cukup berbeda. Orang Belanda relatif lebih berterus terang ketimbang orang Indonesia. Aku harus menyesuaikan diri ketika berkomunikasi di sini. Memanggil dosen saja langsung memanggil nama tanpa tambahan “pak” atau “bu”.

Awal berkuliahku di sini, bisa dikatakan aku mengalami syok mengenai apapun, mulai dari makanan, gaya berkuliah, cara berkomunikasi, pola musim, aturan berkendara, dan banyak lainnya. Syok di sini bukan dalam artian negatif, aku hanya harus mengambil waktu lebih untuk memproses apa yang sebelumnya tidak butuh diproses.

Selama 2 tahun terakhir, aku mencoba beberapa hal yang menarik buatku. Salah satunya ialah mengembangkan situs pribadi dan berkesperimen dengan jenis tulisan atau karya. Melalui situs pribadi ini, aku merasa lebih bebas tanpa batasan format dan lebih independen dalam menuangkan apapun. Aku bisa mempublikasikan apapun tanpa harus khawatir penilaian eksternal atau komentar singkat yang berasal dari sumsum tulang belakang.

Aku juga terlibat dalam organisasi dan kepanitiaan. Selain setia dengan pekerjaan logistik, aku pernah menyunting beberapa video seperti KOPI dan video penutupan acara jurusan, mengurusi situs organisasi (PPI Delft) dan kepanitiaan (Supporting system InDefltnesia 2021), menjadi editor kanal tulisan ilmiah (PIC Delft Insight), dan juga membuat pameran virtual (Virtual exhibition InDelftnesia 2021).

Hal-hal yang membuatku iri dengan Belanda

Makanan dan cuaca bukanlah hal yang membuatku iri dengan negara satu ini.

Aku iri dengan infrastruktur dan pengaruhnya dalam hidup masyarakat. Air keran di Belanda bisa langsung diminum. Bagiku, seorang sarjana teknik lingkungan, ini adalah pencapaian tertinggi dalam penyediaan air minum.

Aku menyenangi budaya bersepeda mereka. Jalur sepedanya mulus, lebar, dan aman untuk bersepeda. Sekagum itu sampai aku mengikuti perkembangannya melalui dua saluran ini: Not Just Bikes dan Bicycle Dutch. Siapapun bersepeda, profesor, bos perusahaan, anak kecil, dan juga orang tua.

Mengelilingi kota-kota di Belanda sangatlah nyaman. Trotoarnya cukup terawat dan transportasi publiknya saling terhubung. Berjalan kaki sembari melihat-lihat menjadi pengalaman yang aman dan nyaman. Aku sadar bagaimana Indonesia dengan konturnya tidak bisa langsung dibandingkan dengan Belanda. Namun, aku tetap penasaran bagaimana rasanya memutuskan berjalan kaki dari satu tempat ke tempat lain tanpa perlu khawatir diserempet kendaraan di jalan.

Terakhir, aku menyukai bagaimana aku dihargai ketika aku menceritakan pengalamanku mengunjungi museum atau perpustakaan. Mengunjungi perpustakaan atau museum di sini bukanlah suatu hal yang aneh. Bangunan-bangunan itu kebetulan juga sangat terawat. Lagi-lagi, perbandingan yang tidak setara antara Belanda dan Indonesia. Tapi tetap, aku penasaran bagaimana pengaruhnya museum yang terawat atau perpustakaan yang nyaman untuk dikunjungi.

Akhir kata

Berkuliah di EPA TU Delft merupakan sebuah keberuntungan yang sangat luar biasa bagiku. Walau dilanda pandemi, menjalankan aktivitas belajar di Belanda terasa lebih tenteram dibandingkan aktivitas bekerja secara lepas yang kulakukan dulu di Indonesia. Tema yang dibahas seringkali bervariasi. Ini sesuai dengan aku yang suka penasaran dengan hal-hal yang tidak ada kaitannya sama sekali dengan kegiatan yang sedang kulakukan.

Melihat diriku 2 tahun yang lalu, aku yang sekarang lebih percaya diri dalam berkomunikasi termasuk ketika menggunakan Bahasa inggris. Rasanya ucapan “see you on top” sudah tidak berlaku lagi bagiku karena aku merasa sudah sukses menjalani hidup. Orangtuaku hanya berharap anak-anaknya mendapat pendidikan yang pantas dan setidaknya lulus S1. Kelulusanku di S2 kini sudah menjadi bonus untuk mereka.

Berkuliah di EPA TU Delft di tahun 2019-2021 kuberikan lima bintang.