Webinar ke depannya akan tetap menjadi salah satu opsi untuk menyampaikan informasi. Serupa dengan seminar, webinar lebih praktis dilakukan dan sudah banyak dilaksanakan. Tips untuk mengadakan webinar yang menarik, efektif, interaktif, tidak membosankan, dan berbagai aspek positifnya juga sudah banyak dijelaskan.

Webinar memang dapat diibaratkan seminar yang dilakukan secara daring, namun webinar yang direkam memiliki keunggulan ketimbang seminar. Rekaman webinar lebih mudah dibuat. Seminar itu bisa direkam juga selama acara berlangsung namun merekam seminar harus memiliki kamera, baterai cadangan, memori cadangan, dan juga mungin audio tambahan. Untuk webinar, teknologi sudah tersedia dan fitur merekam juga banyak disediakan oleh software webinar.

Apabila webinar yang direkam ingin diunggah ke internet, ada baiknya sedikit perhatian dan tenaga dicurahkan dalam proses pengarsipan rekamannya. Sayang kalau informasi tersebut ada tapi sulit ditemukan.

Ibarat mencari buku di perpustakaan, buku buku yang tidak terdata yang sulit ditemukan akan lebih jarang dibaca ketimbang buku-buku yang mudah ditemukan.

Webinar berjam-jam tanpa ada keterangan yang membantu hanya akan bermanfaat hingga webinar itu usai. Padahal dengan sedikit informasi tambahan saja, video bisa lebih mudah ditermukan sehingga bisa membawa manfaat jauh hingga masa depan.

Apa aja sih yang bisa dilakukan terhadap video webinar?

  1. Rangkuman. Ya mungkin rangkuman agak malas ya. Ngapain udah ngomong panjang lebar masih harus dirangkum. Kan orang-orang udah nonton. Pasti inget dong ya. Untuk saya, informasi jarang menempel di kepala kalau tidak saya catat. Saya rasa itu juga berlaku secara umum. Rangkuman ini selain berfungsi untuk menjadi rekaman dalam bentuk tulisan, dia juga berperan sebagi jembatan antara video dengan khayalak yang mencari informasi terkait. Sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui. Rangkuman bisa berbentuk kutipan kalimat kalimat penting selama webinar, atau tulisan artikel yang menceritakan apa saja yang disampaikan di dalam acaranya. Live tweet juga boleh.
  2. Menambahkan time stamp. Apabila webinar itu diisi oleh beberapa pembicara, time stamp akan sangat membantu penonton mengetahui kapan dan apa saja yang akan dibicarakan. Bayangkan menonton video webinar 2 jam tanpa ada informasi. Menakutkan pastinya. Sudah menonton dua jam ternyata informasinya tidak sesuai yang diharapkan. Apabila video yang sama ditandai kalau ada empat pembicara berbeda dan ada sesi tanya jawabnya, penonton bisa memilih untuk melompati sesi tanya jawab atau memilih pembicara yang ingin didengar.
  3. Melakukan editing sederhana. Memotong video menjadi beberapa segmen. Contoh sederhanannya adalah Mata Najwa. Menonton 7 bagian terasa lebih mudah dan bisa dicicil ketimbang langsung menonton rekaman satu jamnya. Editing juga bisa dilakukan untuk memotong waktu menunggu dan memotong waktu transisi ketika acara berlangsung. Untuk hal ini, memang dibutuhkan software editing tambahan dan mungkin juga komputer dengan spesifikasi yang lebih baik.
  4. Menuliskan deskripsi yang komprehensif untuk menjelaskan apa isi dari webinar tersebut. Keterangannya bisa berupa keterangan pembicara, penjelasan singkat mengenai topik yang akan dibawa, tujuan penyelanggaraan acara, waktu penyelenggaraan acara. Informasi lebih lanjut atau media sosial atau situs yang bisa dikunjungi untuk mempelajari lebih lanjut.

Mungkin informasi yang disampaikan bisa bermanfaat dan tetap berlaku hingga beberapa tahun mendatang, alangkah baiknya kalau informasi yang pernah disampaikan itu bisa ditemukan oleh mereka yang membutuhkan.

Catatan kecil: saran yang tertulis di atas pernah diterapkan oleh penulis dan view rekaman konstan bertambah meskipun rendah.

Foto oleh Đăng Nguyễn melalui Unsplash