Ada setetes air. Setetes air biasa. Tidak bisa berbicara. Tidak punya nama. Tidak bisa melihat apalagi mendengar. Kepadanya aku selipkan ceritaku dan ceritanya.

Ada calon setetes air. Melayang sebagai uap air, dia menunggu waktunya yang sudah dekat untuk jatuh ke bumi sesuai hukumnya. Dari ribuan meter di atas sana, ia melesat jatuh. Menabrak daun dan tergelincir. Tergelincir, tergelincir dan tergelincir.

Ia tiba di dasar pohon dan tidak tergelincir lagi. Lantai pohon itu sudah disemen dan tidak bisa menyerapnya.

Setetes air ini seperti semua tetesan air bergerak mencari tempat yang lebih rendah. Dia mengalir ke saluran tak jauh dari situ. Beramai-ramai kini setetes air berkumpul dengan tetesan air lainnya. Yang tadinya setetes, sekarang bisa dihitung menggunakan satuan liter. Mengalir mereka dengan harmonis mengikuti bentuk saluran yang dibuat.

Untuk kali ini, setetes air ini mencapai lautan tanpa berhenti sembari merendam rumah-rumah warga atau melubangi aspal yang baru saja dicor.

Di laut, ia bermuara. Menunggu menjadi uap dan kembali bertualang.

Foto oleh Raj Madhvi melalui Unsplash

Baca petualangan lainnya.

https://julivius.com/id/ada-setetes-air-2/